Ramadan Bulan yang Indah

Ramadan Bulan yang Indah

“Setelah mengerti manfaat puasa untuk kesehatan, kini aku menjalani puasa di bulan Ramadan dengan penuh suka cita.” Begitu kisah salah seorang teman saya yang menuturkan kegembiraan hatinya menjalani ibadah puasa. “Rasa lapar dan dahaga yang terasa kini aku nikmati. Aku membayangkan tubuhku sedang didetox. Seperti sepeda motor yang sedang diservis di bengkal.”

Itulah sekelumit kisah mengenai puasa di bulan Ramadan. Semakin berambahnya ilmu, saya-seperti teman saya tadi, semakin sadar bahwa puasa memberi manfaat yang luar biasa. Dari sisi keimanan, kita sedang digembleng agar menjadi orang bertaqwa. Banyak pahala yang menanti ketika kita melakukan berbagai ibadah, baik yang wajib maupun yang sunah. Kita juga dilatih untuk berempati kepada sesama, terutama kepada fakir miskin lewat sedekah dan zakat.

Dari sisi kedisiplinan, kita dididik untuk menjadi pribadi yang sangat disiplin. Setiap hari kita tidak boleh menyantap sahur lagi saat adzan subuh sudah berkumandang. Pun kita juga dilarang memulai berbuka puasa sebelum adzan maghrib terdengar. Kita bertanggung jawab atas semua perbuatan kita sendiri. Tidak ada yang mengetahui kita benar-benar berpuasa atau tidak selain diri kita dan Allah. Di tempat sepi, bisa saja kita makan dan minum tanpa ada yang melihat. Tapi, Allah menyaksikan semuanya.

Dan dari segi kesehatan, sain sudah membuktikan manfaat yang luar biasa dari puasa. Ilmu kedokteran modern bahkan menganjurkan orang untuk berpuasa agar sehat. Untuk orang yang sakit berat juga disarankan berpuasa agar mempercepat proses penyembuhan. Ternyata, saat kita berpuasa, sel-sel tubuh yang sudah rusak didaur ulang mejadi sel baru yang lebih sehat. Tubuh sedang membersihkan “sampah”. Sampah-sampah itu jika tidak dibersihkan dapat menimbulkan penyakit seperti kanker dan penyakit berat lainnya. Aktivitas itu disebut dengan autophagy (memakan dirinya sendiri).

Bulan Ramadan juga menjadi bulan untuk mempererat silaturahmi dengan orang lain. Saya teringat saat masih remaja dulu. Setiap habis sholat tarawih, saya bersama remaja masjid di dekat rumah selalu tadarus. Yang menyenangkan dari kegiatan itu adalah setiap kali usai tadarus, kita patungan untuk membeli tahu susur (tahu isi) di warung sederhana milik sepasang bapak dan ibu yang sudah sepuh tak jauh dari masjid. Rasanya enak sekali tahu itu. Sayangnya, sekarang warung itu sudah tidak ada. Pemiliknya juga sudah wafat dua-duanya.

Di pagi hari, setelah sholat subuh dan mendengarkan kuliah subuh, bersama-sama kita jalan pagi melewati jalan di tengah sawah. Canda dan tawa mengisi suasana di sepanjang jalan. Kita bergembira menembus kabut yang menyelimuti jalanan. Jika ke masjid naik sepeda, kita naik sepeda hingga ke tempat-tempat yang jauh. Beriringan dengan masih mengenakan mukena. Kebersamaan yang indah sekali. Bahkan sebelum puasa dimulai, kita semua membersihkan masjid dan mencuci tikar-tikar yang ada di sungai besar bernama Bedok. Lalu dijemur di halaman masjid. Kenangan itu abadi di benak dan hati saya.

Begitu puasa usai, kita bersilaturahmi bersama saat Idul Fitri. Setelah maghrib, saya bersama saudara dan teman-teman pengajian akan keliling dari rumah ke rumah untuk “ujung”. Seru sekali. Kini, kegiatan bermaafan sudah disederhanakan di masjid setelah selesai sholat ied. Semua berdiri, berjejer dan bersalaman secara berkeliling setelah diadakan ikrar bermaafan yang dipimpin oleh pemuka agama di kampung. Semu warga kumpul di masjid, jadi sudah tidak perlu datang dari rumah ke rumah seperti dulu lagi.

Masyaallah, bulan Ramadan memang bulan yang sangat indah. Bulan yang sangat mulia. Bulan yang penuh keberkahan di dalamnya. Selamat menuaikan ibadah puasa Ramadan. Semoga kita menjadi orang-orang yang bertaqwa, aamiin ya Robbal ‘alamiin.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga