Idul Fitri dan Perjalanan “Pulang”

Idul Fitri dan Perjalanan “Pulang”

Momen pulang kampung saat lebaran Idul Fitri adalah momen yang sakral. Sakral sekali bahkan. Keinginan untuk bertemu dengan orang tua, saudara, teman, dan tetangga di kampung halaman agar bisa bermaaf-maafan memberi energi yang dahsyat untuk menghadapi apa saja yang ada di sepanjang perjalanan. Perjuangan untuk sampai ke kampung halaman itu tidak mudah. Kemacetan panjang yang menyebabkan bertambahnya waktu tempuh untuk tiba di tempat tujuan menjadi lebih ringan untuk dilewati.

Tahun ini, momen lebaran itu menjadi sangat berbeda buat saya dan saudara-saudara kandung saya. Tepat di hari keenam lebaran, ibu saya tercinta kembali ke “kampung abadi” di sisi Allah. Kepergian beliau sungguh sangat indah. Allah merencanakan dengan begitu mengagumkan. Dimulai dari sholat tahajud, kemudian merasakan sesak nafas dan badan yang mulai melemah perlahan.

Dari dulu ibu saya ingin meninggal dengan mudah agar tidak menyusahkan siapa pun. Dan Allah mengabulkan permintaan beliau. Malam harinya beliau masih menemui tamu yang bertandang ke rumah. Masih bercanda tawa seperti biasa dalam kondisi yang sehat wal afiat. Dan setelah sholat tahajud itu, proses “berpulang” dipersiapkan oleh Allah. Setelah dzuhur, ibu saya kembali menghadap Pemiliknya. Wajahnya sangat tenang dan damai.

Kini saya banyak belajar dari almarhumah ibu saya tentang banyak hal. Tentang apa saja yang harus dilakukan agar bisa dipanggil Allah dalam keadaan seperti itu. Almarhumah ibu saya rajin puasa Senin-Kamis, rajin juga sholat tahajud, dan aktif sholat tarweh serta subuhan di masjid. Almarhumah ibu saya juga mencintai majelis ilmu. Beliau rajin hadir ke pengajian-pengajian. Begitu mendengar adzan, beliau bergegas ambil wudhu dan mendirikan sholat.    Untuk urusan sedekah, jangan ditanya. Almarhumah ibu saya termasuk orang yang dermawan. Hati beliau sangat lembut, tidak tega melihat orang yang kesusahan.

Semoga kami, anak-anak beliau, bisa melanjutkan kebaikan-kebaikan beliau. Semoga kami bisa menjaga silaturahmi di antara kami anak-anaknya dan dengan kerabat-kerabat yang dekat dan yang jauh. Semoga saat tiba waktu kami harus “pulang”, Allah juga memberikan kemudahan seperti yang diberikan pada almarhumah ibu saya, aamiin yra.

Meninggalnya ibu saya mengingatkan saya pada ayat terakhir Surat Al-Fajr: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

       “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga